DMCA.com Protection Status

Selasa, 11 Agustus 2015

CURCOL!!

   
ekspresi lagi stress mikirin cerita yang terombang-ambing gak karuan



Ciaaooooo!!!

   Apa kabar semuaa? Baik pasti yaa.

   Kalau aku sih kabarnya buruk banget. Soalnya lagi stresss banget sama Part 6 LOVE STORY (?). Udah siap sihh...tapi.... Nah tapinya ini nih yang bikin mumet. WHY? Because Aku kudu rombak ulang cerita. Soalnya dengan cerita yang udah aku buat sebelumnya, jadi susah buat part lanjutannya. Padahal udah buat draft sih! Tapi....*nah ada tapi  lagi* gak tau kenapa ceritanya jadi aneh. Mungkin...karena part yang bagian ini butuh pengetahuan EKSTRA Sementaraaaaaaa....aku cuma punya pengetahuan yang minim banget tentang 'anu' yang satu ini. Mungkin karna belum berpengalaman.

  Tapiiii *njirrr ada tapi lagi* secepatnya bakal nyari tau tentang 'anu' yang lagi susah banget didapet infonya. Jadi, sabar menanti yaahh. 

  Buat yang send E-mail  terus bilang :

1. "Mana part lanjutan love story nya???"
2. "Ayo dong post lanjutan love story!!"
3. "Ngepost nya kok lama terus ya. Padahal nungguin lanjutannya nih! Post dong!!"
4. "Love story ga dilanjutin lagi?"

  Bla bla blaaaaaa.....

 dan buat temen-temen terdjindahhh di BBM atau dimanapun berada,

PLEASEEEEE!!! 
Jangan bawell *tears up*. Nanti kalau ceritanya udah di post bakal kasih tau kok. Kalau dibawelin terus kan jadi streeeeeeesssssssss *tears up*.


  Terus, tentang komen-komen temen-temen semua, yang positif maupun negatif. Makasih banget yaa. Apapun komentar temen-temen semua, itu bakal jadi bumbu untuk aku lebih semangat dan memperbaiki lagi kesalahan dalam menulis. 

  Oh iyaa, ngomentar nya jangan via E-mail BBM atau apapun itu. Via postingan aja yaa. Kan ada kolom komentar tuh, dibawah postingan. Yaa, biar postingan nya ga sepii *hahaha duh*.


  Udah ah!
Cuma mau nyampein itu aja kok hehe.

TIAMOOOOO!!! *Kiss Kiss Kiss*



Sabtu, 01 Agustus 2015

LOVE STORY (?) Part 5


    (Hallooo Readers...cieeee udah pada Kangen yaaaa... Apa? Ga ada yang kangen? :(( cewdihh wkwk. Btw, ini nih part 5 dari LOVE STORY (?) yang ceritanya makin ga jelas. Yang mau baca, silahkan beli obat sakit kepala dulu ya sebelum baca. Untuk jaga-jaga biar ga puyeng pas ngebaca story ini wkwk. Terus... buat yang UDAH BACA, gift me a comment dong! Karena komentar kalian akan ngebuat aku lebih semangat lagi nulisnya. Seperti ituu. Yaudah kalau gitu, Happy REDDING yaa.. kiss kiss..)



    Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Hari ini adalah hari keberangkatan Deyami ke Qatar. Siang kira-kira jam 15:00 Deyami telah tiba dibandara Soetta dengan diantar oleh Om dan Tante, juga Adit sepupunya.

    Sesampainya di bandara Deyami beserta Om Rudy, Tante Yosi, juga Adit langsung menuju terminal 2. Deyami keluar dari mobil dengan perasaannya bercampur aduk, antara senang, deg-degan, juga sedikit takut untuk melakukan penerbangan selama berjam-jam seorang diri, terlebih keluar negeri pula. Namun semua ini harus ia lakukan demi bisa menyaksikan secara langsung pegelaran ajang balap kuda besi nomor satu dunia itu secara langsung di sirkuit.

    Kali ini Deyami tampak tidak kerepotan lagi membawa kopernya. Tentu saja  karena Adit telah bersedia membawakan kopernya. Mereka pun memilih untuk duduk dikursi-kursi yang berderatan di terminal 2D.
   “Cieee yang bentar lagi flight to Qatar, kali pertama keluar negeri ciee”. Ejek Adit dengan perasaan iri terhadap adik sepupunya itu.
    Deyami terkekeh “Hahaha. Kapan nyusul bang?” serunya.
    “Abang ke barcelona aja!” tukas Adit.
    “Aminnnn”. Cetus deyami.

    “Oh ya dey, kamu sudah menghubungi Om Fredy belum?” tanya Om Rudy mengingatkan.
   “Belum om. Tapi tadi malam Om Fredy mengirim email pada ku, katanya dia akan nungguin aku kalau udah sampai di  HIA”.
    “Lebih baik hubungi Mas Fredy lagi deh, pah”. Tukas Tante Yosi mengingatkan Om Rudy untuk menghubungi Om Fredy.
    Om Rudy menaikan kedua alisnya “ya baiklah...” serunya.

    Om Rudy kemudian menghubungi Om Fredy yang berada di Qatar. Sementara itu Deyami dan Adit menghilang dari pandangan Om Rudy dan Tante Yosi dan berlalu untuk mencari minuman.

    Perasaan Deyami semakin bercampur aduk, sambil berjalan matanya menerawang jauh dan kini sosok pria yang dikenalinya hari lalu menghantui fikirannya. Bandara ini benar-benar mengingatkannya kepada sosok pria itu. Pria yang begitu mirip dengan Stefan Bradl. Ya...Deyami memikirkan Stefan. Bukan Stefan Bradl, akan tetapi Stefan Widjaya- pria yang dikenalinya saat penerbangan pertamanya menuju Jakarta. Hingga saat perpisahannya beberapa hari lalu  dengan Stefan dibandara ini, pria itu hanya menghubungi nya sekali, padahal sebenarnya Deyami begitu mengharapkan Stefan menghubunginya lagi. Apa gunanya minta mail address kalau ngirim email pun cuma sekali. Minta nomer kalau nge-whatsapp  ga pernah! Gerutu Deyami dalam hati. Kini lamunannya semakin dalam mengenai Stefan, hingga tanpa disadarinya, kini dia bersama Adit telah tiba disebuah outlet store yang menjual makanan dan minuman.

    “Woi, dey! Bengong aja” cetus Adit yang membangunkan Deyami dari lamunanya tentang Stefan.
    Deyami melotot kaget “Ehhh hah,bengong? Eh iya. Kita udah sampai ya bang?”.
    “Udah! Makanya kalau lagi jalan jangan bengong! Kita udah sampai aja, ga sadar” cetus Adit.
    Deyami nyengir “Hehehe, maaf bang”.
    “Mikirin apaan sih?” tanya Adit.
    “Enggak kok. Nggak mikirin apa-apa. Cuma lagi deg-degan aja” tukas Deyami.
    Adit menggeleng kepala “Yaudah kamu mau apa?”
    “Air mineral aja deh bang”.
    Kemudian Adit meminta empat botol air mineral kepada penjaga outlet store dan mengambil beberaa makanan ringan.

    “Yaudah, yuk, balik ketempat mamah sama papah”. Ajak adit kepada Deyami setelah membeli dan membayar minuman dan makanan yang dibelinya.

    Kemudian mereka pun berjalan menuju bangku dimana Om Rudy dan Tante Yosi tadi duduk. Dari kejauhan terlihat mata Om Rudy dan Tante Yosi tengah jelalatan memperhatikan seluruh penjuru terminal 2D untuk mengetahui keberadaan keponaannya dan anak lelakinya yang menghilang dari pandangan mereka beberapa menit yang lalu. Kini  akhirnya Om Rudy dan Tante Yosi melihat Deyami dan Adit berjalan menuju kearah mereka dengan membawa kantong plastik.
   
    “Aduhh...kalian dari mana saja sih?” tanya tante yosi khawatir.
    “Dari outlet store tante, beli minum”. Jawab Deyami. Adit pun memberikan 2 botol minuman kepada mama dan papanya. Dan sisanya untuk deyami dan dirinya.
   
    “Oh ya, barusan om udah menghubungi Om Fredy. Dia bilang, setibanya kamu disana, dia sudah menunggu dibandara. Nanti setelah kamu landing, segera hubungi Om Fredy ya”. Tukas Om Rudy menyampaikan tentang pembicaraan nya lewat telepon dengan Fredy-yang tidak lain tidak bukan adalah abang Ipar nya. Abang dari Tante Yosi dan Adik dari mama Deyami.
    Deyami mengangguk faham “Oh, ok. Baiklah om”. Ia kemudian  membuka tutup botol mineral dan kemudian mennyeruput isi nya.
    “Sekarang udah jam empat, sebaiknya sekarang kamu check-in”. Tukas Om Rudy sambil menatap arloji miliknya.
 “Lagipula tante dan om tidak bisa berlama-lama disini dey, karena nanti malam kami harus menghadiri acara rekan kerja nya om kamu”. Tukas tante Yosi menambahkan.

    “Ya. Baiklah om, tante.” Seru Deyami.
    “Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati ya. Kalau sudah sampai jangan lupa menghubungi kami”
    “Iya tante. Oh ya tante, tolong beritahu mama tentang keberangkatan ku ke Qatar ya. Aku lupa memberitahunya. Kalau menelepon sekarang, tidak ada waktu lagi. Lagipula aku sudah mematikan ponsel ku”
    “Ya, nanti tante akan beritahu”
    Adit kemudian mengelus manja kepala adik sepupunya itu. “Hati-hati disana ya dey.”
    Deyami tersenyum “Iya bang. Kalau begitu, aku check-in dulu ya om, tante, bang Adit”
    “Yasudah, kalau gitu om dan tante pamit dulu ya. Maaf om dan tante tidak bisa menemani lebih lama lagi”.
    “Iya om, ga apa kok, aku maklum. Lagi pula aku akan segera check-in”. Deyami tersenyum kepada om dan tantenya.
    “Maaf juga ya dey, abang ga bisa nemenin lebih lama”.
    “Iya bang, gapapa,” deyami tersenyum kepada Adit. “Om dan Tante hati-hati dijalan ya.”
    Om rudy mengangguk. “Iya..dey. kamu juga”.
   
   Setelah berpamitan dan menyalami Om dan Tantenya juga Adit, Deyami kini beralih menuju check-in counter untuk melakukan check-in. Om Rudy dan Tante Yosi beserta Adit pun beralih meninggalkan bandara dan balik kebekasi.

  Setelah melewati beberaa tahap penerbangan, kini Deyami telah berada dikabin maskapai Qatar Airways penerbangan QR 0957V tujuan Doha. Setelah mencari-cari bangku yang sesuai dengan tiket miliknya, akhirnya Deyami menemukannya. Lagi-lagi ia kembali duduk dibangku samping jendela pesawat. Sontak ini kembali mengingatkannya kepada Stefan-saat penerbangannya menuju Jakarta beberpa hari lalu. Stefann...  gumamnya. Deyami menghela nafas dan kemudian menyandarkan punggung nya kesandaran bangku. Kini ia tengah memandang jauh keluar jendela. Detik selanjutnya ia merasakan ada seseorang yang telah duduk dibangku yang ada disampingnya. Dalam hati ia berharap orang itu adalah Stefan. Deyami memejamkan matanya  sembari berdoa didalam hati berharap bahwa orang yang duduk disampingnya itu benar-benar Stefan.

  Deyami hanya diam, menunggu-nunggu Stefan menyebut namanya, setidaknya mengatakan “Hi” kepadanya seperti beberapa hari lalu saat di BIM. Satu menit menunggu Deyami tak kunjung mendengar Stefan menyapanya. Oh...mungkin Stefan ingin mengejutkannya. Arti lain, Stefan ingin memberikan surprise kepadanya karena sudah satu maskapai lagi dengannya. Deyami dibuat  semakin deg-degan, dia terus menunggu Stefan menyapanya.

  Deyami memejamkan matanya sambil tersenyum-senyum penuh harapan, dan tanpa ia sadari kini kedua tanganya telah mengepal dan berada tepat dibawah dagunyatampak seperti orang yang memohon penuh harap. Hingga akhirnya terdengarlah suara Stefan mengatakan, “Nona...”. Hal ini sangat membuat Deyami senang ulalaaa. Akhirnya Stefan mengeluarkan kata-kata untuk dirinya. Tapi detik selanjutnya ia mengernyitkan dahinya. Seingatnya-suara Stefan tidak seperti itu. Bagaimana bisa suara Stefan berubah seperti itu. Oh..mungkin Stefan sedang flue karena tidak cocok dengan cuaca di Jakarta atau Stefan sedang menyamarkan suaranya agar lebih mengejutkan diri nya.

  Perlahan Deyami membuka matanya dan memutar lehernya 180 derajat kearah Stefan. Dada nya berdebar dan...toreng-toreng... didapatinya Stefan tengah menatap kearah dirinya.

“Maaf, nona. lagi kurang enak badan?”. Tukas seorang kakek paruh baya yang heran dengan kelakuan gadis aneh yang duduk disamping nya itu.

  GUBRAKKK!!!
  Deyami terenyah kaget. Ia semakin shock saat melihat Stefan yang kini telah berubah menjadi seorang kakek-kakek yang keriput dan ber-uban. Gerangan apa yang terjadi sehingga Stefan menjadi seperti ini? Mungkin Stefan kena kutukan sewaktu dijakarta. Atau dia pergi ke klinik ketampanan untuk menjadi lebih tampan. Alih-alih lebih tampan, malah Stefan berubah menjadi keriput dan tampak menjadi menua.

  “Stefan...kamu kok...jadi keriput gitu? Ubanan lagi... what happen? Aya naon?” pekik Deyami sambil menyentuh dagu keriput milik stefan.
  “Maaf nona...lagi kurang enak badan ya?” seru kakek-kakek itu.

  Deyami masih shock dan tangannya pun kini menarik-narik kulit keriput pria paruh baya yang ada disampingnya itu. “Ya ampun stefan...kamu kenapa?” seru Deyami yang masih sibuk menarik-narik kulit keriput Pria paruh baya itu. Tampaknya bayang Stefan benar-benar merasuki fikirannya hingga ia lupa diri.
 Karena merasa risih, pria paruh baya itu kemudian memanggil seorang pramugari. Berniat melaporkan perlakuan tidak menyenangkan Deyami terhadap dirinya.
 “Excuse me!” pekik pria paruh baya  itu sambil mengangkat tangan kanan nya-yang tentu saja berhasil menarik perhatian seorang pramugari juga beberapa penumpang maskapai.

  Deyami terenyah oleh pekikan pria paruh baya itu. Kesadaran dirinya kini kembali. Ia lantas menepuk jidad dan merasa bodoh atas tindakannya. Bayang Stefan benar-benar sudah merasuki benaknya-hingga ia benar-benar bodoh telah menganggap pria paruh baya yang ada disampingnya itu adalah Stefan yang menua akibat kutukan atau apalah itu, yang jelas ia benar-benar diluar kendali.

  Detik selanjutnya seorang pramugari pun datang menghampiri pria paruh baya yang duduk disamping Deyami. “Ada yang bisa kami bantu pak?” seru pramugari itu.

  Aduhh... gumam deyami sembari menepuk jidad nya.
Dengan semangat kakek itu langsung mengutarakan kekesalannya “Gadis disamping saya ini, sepertinya tengah dalam kondisi tertekan. Dia sepertinya dalam keadaan yang buruk. Entah terguncang jiwanya, yang pasti sedari tadi dia bertingkah aneh dan menganggap saya stefan dan saya bukanlah stefan. Saya juga tidak tahu siapa itu stefan!!”. tukas pria paruh baya itu tanpa gentar.

  Deyami lantas mengernyit kening, memikirkan alasan yang patut diutarakan kepada pramugari juga pria paruh baya itu.
   “Jadi...kakek bukan stefan?” cetus deyami, pura-pura baru menyadari kalau kakek itu bukanlah Stefan.
Kakek itu mendelik Deyami “Bukan! Saya bukan stefan yang anda maksud. Dan saya tidak tahu siapa itu stefan!”
   “Ma...ma...maaf kek, saya mengira tadi kakek adalah seseorang yang saya kenal”.
Deyami mencoba meminta maaf atas perilaku memalukannya itu. “Maaf...ini Cuma kesalahfahaman.  Saya tadi mengira kakek ini adalah seseorang yang saya kenal”. Seru Deyami kepada pramugari, berusaha memberi tahu pramugari itu bahwa kejadian itu bukanlah permasalahan yang rumit yang akan mengganggu penerbangan nantinya.
   
    Pramugari itu mengernyitkan keningnya dan menatap Deyami dengan tatapan tajam-memastikan kalau alasan yang diberikan Deyami adalah benar. Deyami lantas balik menatap pramugari itu dengan tatapan meyakinkan sambil tersenyum getir.
Pramugari itu pun menghela nafas “Baiklah, kakek sudah dengar sendiri kan penjelasan dari gadis ini. Ini hanya kesalahfahaman dan saya fikir ini tidak terlalu buruk. Dan buat anda, jangan ulangi kesalahan ini lagi ya. Karena akan mengganggu kenyamanan penumpang yang ada dimaskapai kami”
    Deyami menghela nafas lega . Ia mengangguk faham “Iya mba...sekali lagi saya minta maaf atas kejadian ini”. Deyami pun menundukan kepalanya malu akan perilaku diluar kendalinya itu.
    “Yasudah kalau begitu jangan ulangi lagi hal seperti tadi lagi” tukas pria paruh baya itu memandang risih kearah Deyami, seolah trauma akan kejadian yang sangat membuatnya tidak nyaman itu.
    “Sekali lagi, saya minta maaf ya kek”. Tukas Deyami.
    Kakek itu mengangguk “ya”.
  “Kalau begitu sudah tidak ada masalah lagi kan? Selamat menikmati penerbangan. Jika butuh bantuan, silahkan hubungi kami kembali”. Kemudian pramugari itu berlalu meninggalkan Deyami dan kakek malang itu.

    Safeti demo pun telah memberi aba-aba kepada semua penumpang untuk menggunakan sabuk pengaman. Tak lama kemudian terdengarlah suara pilot yang mengatakan bahwa maskapai akan segera flight.

    Penerbangan kali ini sangat buruk bagi Deyami. Kejadian yang sangat memalukan tadi membuatnya sangat tidak nyaman. Dia merasa malu kepada kakek yang ada disampingnya juga kepada penumpang maskapai yang memperhatikan nya tadi. Deyami tak sedikitpun mengarahkan pandangannya kehadapan kakek-kakek yang duduk disamping nya itu.

    Satu jam penerbangan Deyami masih merasa tidak nyaman. Diambilnya ponsel kesayangan miliknya. Seperti biasa, Deyami membuka galeri motoGP dan asik memandangi foto-foto rider kesayangannya untuk menghilangkan kejenuhan dalam dirinya. Perasaannya kembali normal. Ia kini merasa bahagia,  sebab kini jarak antara dia dan rider kesayangannya semakin dekat. Dan tentu saja dia berharap bisa bertemu kembali dengan Stefan saat berada di Qatar nanti. Ya, lagi-lagi Deyami kembali memikirkan Stefan. Kini dia tak lagi fokus kepada foto rider idolanya, akan tetapi kini pandangannya jauh menerawang keluar jendela pesawat. Fikirannya kini kembali dihantui oleh sosok Stefan. Harus diakuinya bahwa sosok Stefan telah mampu meluluhkan hati nya. Tapi...ah sudahlah, bagaimana pun juga perasaan itu hanyalah perasaan sesaat. Karena pertemuannya dengan Stefan hanyalah karena kebetulan dan hanya sementara. Tidak mungkin rasanya dia menyukai orang dalam waktu yang sesingkat itu. Dan begitu juga dengan Stefan. Tidak mungkin Stefan menyukai dirinya.

    Deyami melirik jam tangannya. Baru dua  jam berlalu semenjak pesawat lepas landas, dan itu berarti masih ada enam jam perjalanan lagi. Tidak bisa tidur karena masih dihantui bayangan Stefan juga rider kesayangannya, Deyami mengeluarkan iPod, memutuskan untuk menonton beberapa video dokumentasi rider kesayangannya. Deyami lantas menerawang dengan wajah bahagia-mungkin membayangkan asyiknya bertemu dengan rider motoGP idolanya.  Ditengah asik melamun, ia dikagetkan oleh kedatang seorang pramugari yang menawarinya beberapa makanan dan minuman-ia lantas tidak menolak. Deyami melahap makanan itu dan pandangannya pun kembali menerawang jauh. Tak berapa lama setelah menghabiskan makanan nya-dia pun tertidur dengan lelap.

    Sudah lima jam berlalu semenjak pesawat lepas landas. Deyami terbangun dari tidurnya karena dibangunkan dan disodorin makanan oleh seorang pramugari. Apaan nih? Sahur?, sahutnya dalam hati, kemudian ia menolak karena masih merasa kenyang. Selama perjalanan sudah dihitungnya entah berapa kali pramugari itu menawari makanan dan minuman kepada setiap penumpang maskapai termasuk dirinya. Ia tidak pernah menolak, dan kali ini ia harus menolak karena masih merasa kenyang.   Kemudian  ia beralih ke iPod miliknya, tak diperdulikannya lagi pramugari itu. pandangan nya beralih ke iPod miliknya-ternyata iPod itu sudah mati karena kehabisan baterai. Ia lantas memasukan iPod nya kedalam tas selempang kesayangan miliknya. Deyami melirik lagi jam tangan miliknya, kini ia menghitung lama penerbangan yang telah ia lalui. Huh, tiga jam perjalanan lagi. Ia pun menghela nafas panjang. Perjalanan nya terasa begitu membosankan. Apalagi ia harus sebangku dengan kakek-kakek paruh baya, begitu membosankan baginya-karena tidak bisa mengobrol. Tidak akan ada obrolan yang menarik jika gadis seusianya bercengkrama dengan lansia seperti kakek-kakek yang duduk disampingnya itu. Kalaupun mereka mengobrol, paling-paling mereka akan membahas soal berbagai macam penyakit yang menyerang lansia. Ya... paling tidak ia akan mendengarkan keluhan penyakit lansia itu. Tidak terbayangkan baginya-jika ia harus mendengarkan semua keluhan kakek-kakek disampingnya itu.

    Deyami melirik kearah kakek yang duduk disampinya itu. Lantas ia merasa risih  dengan kelakuan kakek tersebut saat tertidur. Dengan mulut yang menganga-yang seolah-olah membiarkan gigi-giginya berlarian satu persatu. Iler yang mengalir bak tetesan eskrim saat terkena panas dan dengkuran yang sangat berisik yang begitu mengganggu kenyamanannya. Dasar berisik! Cetusnya kesal. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena masih mengantuk, Deyami memutuskan kembali tidur. Ia tidak memperdulikan suara dengkuran kakek-kakek disampinya itu lagi. Berharap agar setelah ia terbangun dari tidurnya-ia telah sampai di qatar dan mengakhiri penerbangan kamvret ini.

    Deyami kembali terbangun dari tidurnya. Lantas melirik kembali jam tangan miliknya. Jantungnya berdebar, sudah tidak sabar untuk segera touchdown di Qatar. Perasaannya tidak karuan, bercampur aduk, yang pasti ia ingin segera mengakhiri penerbangan yang begitu membosankan ini. Biasanya, selama apapun perjalanan yang dilaluinya, tidak pernah membuatnya sebosan dan se-badmood  ini, tetapi hari ini rekor itu terpecahkan. Deyami sampai bertanya-tanya dalam hati, dosa berat apa yang pernah ia-atau nenek moyangnya-lakukan hingga harus mendapatkan teman duduk bersampingan dengan kakek-kakek yang lagi-lagi dilihatnya masih tertidur dan berdengkur dengan iler yang membanjiri seluruh permukaan dagu nya. Iyuwwww. Cetus Deyami merasa geli.

 -----

    Sekarang, penderitaan itu berakhir setelah ia melihat lampu-lampu di luar jendela. wah itu kota Doha, akhirnya sampai juga di Qatar, serunya. Seasaat kemudian terdengar suara pilot yang memberitahukan bahwa maskapai yang ditumpanginya telah tiba di Hamad International Airport dan akan segera landing. Dengan sangat Percaya Diri-Deyami melepas hoodie yang ia kenakan. Arab nih! Pasti panas banget diluar. Fikirnya dalam hati. Setelah keluar dari pesawat, kamvreeet! Dingin banget  Kayak dipuncak! Tak lama kemudian, ia kembali memakai hoodie miliknya.

  Setelah turun dari pesawat dan lolos dari karantina-pemeriksaan suhu tubuh-ia pun menaiki kereta shuttle yang sangat nyaman menuju bangunan utama bandara. Selepas imigrasi, pengambilan bagasi, Deyami bergerak menuju lobi kedatangan.

    Deyami mengamati seluruh penjuru terminal bandara, ia terkagum-kagum atas keindahan desain terminal bandara yang sangat megah dan terlihat elegan itu. Bandara ini sangat jauh lebih megah dibandingkan bandara soekarno-hatta. Desainya begitu modern, pelayanannya juga sangat memuaskan dan efisien. Transportasi sangat mudah diakses. Sarana publik pun sangat lengkap sehingga tempat ini terasa nyaris seperti mal. Yang membedakan hanyalah pesawat yang berlalu lalang. Deyami masih memandangi seluruh terminal, dari sudut ke sudut-semua dipandanginya. Kali ini ia mencari-cari keberadaan Om Fredy. Perasaan kagumnya akan kemegahan bandara itu pun kini berubah menjadi perasaan takut. Bagaimana kalau ternyata Om Fredy tidak benar-benar menunggu kedatangannya di Airport ini. Mata nya kian tajam memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang. Sampai akhirnya matanya tertuju pada seorang pria yang dikenalnya tengah melambai kearahnya sambil berteriak menyebut namanya.

    Dengan segera Deyami berjalan menghampiri pria itu yang tidak lain tidak bukan adalah om Fredy-adik dari mama nya.
    “Selamat datang di Qatar.” Seru Om fredy menyambut Deyami dengan senyuman. Lantas Deyami segera menyalami Om Fredy.
    “Terima kasih Om. Senang rasanya berada di Qatar.” sahut Deyami tersenyum.
   “Mari, kita langsung menuju mobil saja. Karena tante Alisa sudah menantikan kedatangan kamu dirumah.” Tukas Om Fredy yang  kemudian membimbing Deyami dan membawakan koper miliknya menuju mobil diparkiran.
    “Oh, ya. Baiklah om.”

    Mereka pun berjalan menuju parkiran tempat dimana mobil Om Fredy terparkir. Setelah semua barang dimasukan kedalam bagasi mobil, mereka pun masuk kedalam mobil, dan kini mobil telah melaju meninggalkan bandara menuju Al-Khor, daerah tempat kediaman Om Fredy dan istrinya.
    “Bagaimana perjalanan kamu dey?” tanya Om Fredy sambil mengemudikan mobil.
    “Sangat melelahkan Om. Tapi aku senang bisa sampai di Qatar dengan selamat”.
    “Bagaimana kabar keluarga disana?”
    “Sehat om. Om dan tante gimana?” Deyami balik bertanya.
    “Seperti yang kamu lihat, om baik-baik saja. Tante Alisa juga baik”
Mereka pun tersenyum bersamaan.

   Deyami melirik kembali jam tangan miliknya, ternyata sudah jam 1 dini hari  waktu indonesia bagian barat. Kemudian ia melirik kearah jam digital yang ada di mobil Om Fredy, dan ia pun menyetel jam tangan miliknya sesuai dengan waktu di Qatar. Perbedaan waktu Indonesia-Qatar adalah 4 jam, dan itu artinya di Qatar masih pukul 21:00.

  Setelah beberapa saat, Deyami menguap panjang. Om Fredy yang mengerti bahwa Deyami masih mengantuk itu pun menyarankan Deyami untuk kembali tidur. Karena perjalanan mereka menuju rumah tempat kediaman Om Fredy dan keluarganya masih memakan waktu 2 jam perjalanan lagi.

  Beberapa menit kemudian, Deyami sudah jatuh terlelap. Om Fredy sendiri masih fokus mengemudi mobil. Hingga pada akhirnya kefokusan Om Fredy terganggu oleh deringan ponsel miliknya. Ternyata itu telepon dari Tante Yosi yang menanyakan keadaan Deyami. Tak lama kemudian, setelah telepon dari Tante Yosi terputus, ponsel milik Om Fredy kembali berdering. Diambilnya ponsel itu, dan ternyata itu adalah panggilan dari istrinya-Alisa.

   “Halo?” sahut Om Fredy mengangkat telepon dari istrinya.
  “Halo, fred. Dimana kau berada? Apakah Deyami sudah bersama mu? Aku sangat mengkhawatirkan kalian.”
   “Jangan khawatir Alisa. Aku sudah membawa Deyami menuju rumah kita. Dan tidak lama lagi kami akan tiba dirumah”. Tukas Om Fredy mencoba menenangkan perasaan istrinya.
  “Baiklah Fred. Aku sudah menyiapkan beberapa menu untuk makan malam kita.”
  “Ok. Aku dan deyami akan segera tiba untuk menyantap makan malam buatan mu yang lezat”.
“Baiklah. Hati-hati dijalan ya”
“Ya, sayang”

  Telepon pun kemudian terputus. Deyami yang masih terlelap dibiarkan begitu saja oleh Om Fredy. Ia sangat faham atas kelelahan yang dialami keponakan nya itu.

  Satu jam perjalanan, sejak mereka meninggalkan HIA. Deyami akhirnya terbangun dengan sendirinya dari tidurnya. Ia lantas meregangkan badannya yang begitu lelah.
  “Masih belum sampai ya Om?” tanyanya sambil meregangkan badan.
  “Kira-kira satu jam perjalanan lagi”. Tukas Om Fredy.
  “Uhhh, lamanya” cetus Deyami yang kemudian melempar pandangan kearah luar jendela.

  Deyami memperhatikan setiap bangunan yang ada di sepanjang jalan-meskipun ia tidak dapat melihat dengan begitu jelas, matanya kini lantas memperhatikan jalanan yang desainnya sangat megah, lampu penerangan menerangi sepanjang jalan, rambu-rambu lalu lintas tertata dengan teratur,dan tidak ada satupun jalan yang rusak. Sangat berbeda jauh dengan negara tercinta Indonesia yang kondisi jalan nya jauh dari kata layak. Kini matanya tertuju pada setiap mobil yang melaju dengan sangat kencang, bahkan hampir semua mobil yang melaju dengan sangat kencang. Wah,  pembalap F1 semua nih yang bawa mobil disini. Ungkapnya dalam hati melihat mobil-mobil yang melaju dengan kecepatan rata-rata 100 Km/jam itu. Ia lantas melirik kearah speedometer mobil yang dikemudikan Om Fredy. Dafukkkk, 130 Km/jam. Pantas saja ia tidak dapat melihat dengan jelas pemandangan yang ada diluar. Ia pun menyarankan Om Fredy agar mengurangi kecepatannya.
  “Om, bisa kurangi kecepatannya? Aku ingin melihat-lihat keindahan dan kemegahan kota ini” cetusnya dengan tatapan datar sambil menahan mual diperutnya.
   Om Fredy lantas mengangguk-angguk faham “Oh ya, baiklah” serunya.
  Om Fredy mengemudikan mobil nya metepi dan mengurangi kecepatan laju mobilnya. Sementara itu Deyami kembali memandangi setiap bangunan yang ada di tepi jalan. Jarang-jarang ia melihat bangunan seperti itu di Indonesia.

  Deyami masih terus memperhatikan pemandangan malam hari kearah luar jendela mobil. Kini matanya tak lagi melihat bangunan-bangunan yang megah, yang terlihat hanyalah hamparan padang pasir yang luas. Deyami masih terus mengarahkan pandangannya keluar jendela, sampai akhirnya matanya tertuju pada sebuah bangunan yang sangat besar dan luas. Lusail Multipurpose Hall, Commercial Bank of Qatar. Begitu mulutnya mengeja sebuah tulisan besar bercahaya yang ada di bangunan itu. Ia lantas menganga, takjub atas kemegahan bangunan itu, pilar-pilar yang menerangi setiap sudut bangunan, dan pohon-pohon kurma yang berbaris rapi menghiasi sekeliling bangunan.
  “Nah ini adalah gedung Comersial Bank of Qatar, dan yang itu adalah hall serbaguna lusail.” Tukas Om Fredy memperjelas apa yang dibaca oleh Deyami.

  Deyami masih ternganga, mengagumi kemegahan bangunan ditengah hamparan padang pasir itu. Ditengah padang pasir begini saja ada bangunan semegah ini, bagaimana dengan bangunan-bangunan yang ada dipusat kota, mungkin lebih megah dari ini. Fikirnya.

  Om Fredy lantas mengurangi lagi laju mobilnya, kini mobil melaju dengan kecepatan 70 Km/jam. Ia menunjuk kearah sebuah gerbang yang begitu besar. “nah besok kita akan kesini” katanya kepada deyami.
Deyami lantas segera mengarahkan pandangannya tepat kearah telunjuk Om Fredy mengarah. “Losail International Circuit”  ia mengeja bacaan yang tertera pada gerbang utama sirkuit losail itu, ia lantas ternganga takjub. “WOOWW”.

  Jantungnya berdebar-debar, karena terlalu bersemangat. Om Fredy kembali menambah kecepatan  mobilnya. Sementara Deyami-pandangannya tengah menerawang jauh memikirkan tentang kegiatannya nanti disirkuit losail saat menyaksikan motoGP.


                                                                                            Bersambung...

Senin, 13 Juli 2015

LOVE STORY (?) Part 4




            (Hallooooo... Ini part 4 dari love story(?) wkwkwk. Part 4 ini adalah part terakhir dari story  perjalanan Deyami di Djagardah Jakarta. Part selanjutnya barulah story tentang cinta nya dengan...*rahasiaa wkwkwk*. Kalau gitu happy REDDING yaa readers. Semoga nggak mabok baca part yang mayan panjang ini. Tambah lagi ceritanya ngaurrrr. Oh ya, Jangan lupa baca part-part selanjutnya. Yang udah baca part ini, jangan lupa tinggalin jejak berupa komen yaa. Kiss kiss kiss)


Deyami! Rayan! Ayo buruan!” teriak Dona dari kejauhan.
Deyami tersenyum lebar menatap kearah Dona. Ia  kemudian berlari-lari menuju Dona, Doni dan Adit.

Rayan lantas menggeleng-geleng melihat gadis tengik yang berlari layaknya anak kecil yang mengejar sebuah lolipop. “Dih! Si tengik!” cetus nya dalam hati.

“Ayo naik itu!” seru Dona menunjuk sebuah wahana atraksi, membuat Deyami mengalihkan pandangan pada apa yang ditunjuk Dona. Sementara Rayan tidak tertarik sama sekali untuk mengalihkan pandangan kearah telunjuk Dona menunjuk. Ia hanya meneguk ludah, tau bahwa usulan Dona tidak pernah menarik baginya jika di taman bermain ini.
“Wah! Tornado! Ayuk!” seru Deyami kagum melihat wahana Tornado yang diusulkan Dona.

-----

Mereka kini telah masuk dan duduk di bangku tornado. Dona dan Doni duduk bersebelahan. Disamping Dona telah duduk Rayan dengan wajah pucat dan badan yang gemetar. Sementara Deyami duduk ditengah-tengah antara Rayan dan Adit.

Sesekali Deyami menatap kearah Rayan yang tengah gemetar disampingnya. Tahu-tahu, Rayan menoleh, membuat tatapan mereka bertemu. Namun, tak berlangsung lama karena Deyami membuang muka-karena tidak sanggup bertatapan terlalu lama dengan pria yang sukses membuat jantungnya nya tak berhenti berdebar sejak awal melihatnya. Rayan masih terus memandangi Deyami. Tidak bermaksud apa-apa, ia hanya kagum kepada gadis yang menurutnya baru sekali itu menjajal wahana mengerikan itu dengan ekspresi tanpa rasa takut sedikitpun. Sementara dirinya yang sudah berkali-kali menjajal wahana itu masih saja takut. Kalau tidak karena pertemanannya dengan sibrengsek Adit dan Catdog itu, dia tidak akan pernah mau menjajal wahana yang mampu menunjukan kelemahannya yang takut terhadap ketinggian.

Deyami kembali menoleh kearah Rayan. Ia mendapati Rayan masih tengah menatapnya yang membuatnya menjadi GR.
What? Rayan masih ngeliatin aku? Oh my god... gumam Deyami dalam hati sambil menahan ekspresi bahagianya.
“Kamu nggak takut?” tanya Rayan kepada Deyami yang masih terus menatapnya.
“Nggak takut! Kan ada abang!” seru Deyami dengan santainya. Ia lantas membungkam mulutnya dengan telapak tangan nya saat menyadari apa yang telah dikatakan nya kepada Rayan. Merasa malu atas apa yang ia kata kan, ia lantas membuang pandangan kearah Adit..

Ya ampun! Ini mulut bego amat!  Gumamnya dalam hati sambil menampar-nampar pelan mulutnya. Rayan yang mendengar dengan jelas apa yang dikatakan gadis tengik yang ada disampingnya itu hanya menggeleng-geleng sambil menahan senyum.

Wohoooooo!!
Dona dan Doni teriak riang, begitu juga dengan Adit dan Deyami. Beda hal nya dengan Rayan, teriakan nya berliku-liku karena ketakutan. Ia memicingkan mata nya erat-erat dan tangannya menggenggam erat pengaman yang menjepit tubuhnya. Kini tubuhnya tengah di luluh-lantakan oleh wahana atraksi yang tidak pernah disukainya sedari dulu. Ia kini hanya harus menikmati sensasi dari atraksi itu sambil terus berharap nyawanya masih tetap ada setelah atraksi tersebut berhenti.

-----

“Seru ya!!”
Deyami tepat memekik setelah tornado berhenti. Beberapa menit tadi benar-benar mengasyikan baginya juga yang lain. Tapi tidak dengan Rayan yang tampak mual dan muntah-muntah setelah turun dari atraksi maut itu. Adit, Dona dan Doni menertawai Rayan yang tengah muntah. Kali ini lagi-lagi mereka berhasil membuat K.O pria tampan seperti Rayan.

“Hahaha! Rasain lo.” Hardik Dona yang terlihat gembira melihat Rayan yang sudah K.O.
“brengsek lu pada!” Rayan menjawab hardikan Dona, dan kemudian ia kembali muntah-muntah.

Deyami yang melihat itu, langsung merogoh tas selemangnya dan mengeluarkan botol minum mini berstiker Dani pedrosa dan Scott Redding kesayangannya dari tas. Berusaha menunjukan rasa peduli nya, ia lantas memberikan minum itu kepada Rayan.
“Nih, bang!” seru deyami sambil nyodorin botol minuman kepada Rayan yang masih mual.
Rayan menatap Deyami. Ia kemudian mengambil botol alay yang ada dihadapannya itu. ia menatap lekat-lekat botol minuman itu. “Apaan nih?” cetusnya sambil membolak-balik si botol alay.
“Miras!” cetus Deyami.
Rayan lantas menganga heran dan masih membolak-balik botol alay milik Deyami.
“Itu isinya air mineral. Minum aja. Halal kok. Belum aku apa-apain. Masih steril.” Cetus Deyami meyakinkan Rayan.
“Oh. Thanks ya.” Rayan kemudin membuka tutup botol itu dan meneguk isinya.

“Eh, naik itu yuk!” pekik Dona menunjuk wahana halilintar (rollercoaster). Adit lantas menganga, kini giliran dirinya lah yang akan K.O seperti Rayan. Meskipun ia berhasil menjajal wahana tornado  tanpa K.O-dengan keadaan nyawa yang masih lemas setelah menjajal wahana tornado, ia pasti tidak akan bisa bertahan lama.
“Eh, gue nyari toilet dulu ya. Kebelet.” Adit ngeles menyelamatkan diri sambil melangkah perlahan menjauhi Dona dan yang lain.
“Eh eh eh! Nggak bisa!” cetus Dona yang kemudian menarik baju Adit.
“Gue kebelet nih!” seru Adit.
“NO!! Gue tau lo cuma ngeles dan menghindar!” tuka Dona dengan tampang kekejian “Kita semua harus naik itu sekarang!” tambah Dona menegaskan  membuat Adit mati kutu.
 “Gue nggak ikut deh. Gue tunggu disini aja. K.o gue!” sambar Rayan dengan nafas masih tersengal-sengal dan mual.
“Ok. Lo k.o pertama, itu artinya lo harus teraktir kita-kita hari ini.” Cetus Dona.
“Terserah deh! Daripada gue koid!”
“Ok. Lo tunggu kita disini. Yuk! Kemon!” seru Dona mengajak Doni dan Deyami.

    Adit begitu sibuk dengan pikiran dan kekhawatirannya hingga tidak sadar kalau Dona sudah menyeretnya masuk dan membuatnya duduk dibangku halilintar. Adit bahkan tidak kepikiran lagi untuk lari saat mengantri.
    Tahu-tahu kini Adit telah duduk di bangku halilintar bersampingan dengan Dona. Doni dan Deyami duduk berdua didepan mereka. Kini pengaman telah menjepit tubuh mereka, dan halilintar pun bergerak perlahan sebelum akhirnya meluncur dengan kecepatan dahsyat yang membuat semua orang yang menaikinya teriak histeris.

-----

    “Seru banget!” pekik Dona saat halilintar berhenti.
    Mereka kini berjalan keluar dari wahana halilintar  dengan gembira. Tidak hal nya dengan Adit, ia dibuat sempoyongan. Nyawanya serasa mengambang. Ternyata apa yang ditakut-takutinya terjadi. Kini giliran nya lah yang dibuat K.O oleh Dona.

     “Haha! K.O juga lu dit?” sambar Rayan saat melihat Adit berjalan dibopong oleh Doni.
    Adit hanya diam . Ia mengelus-elus perutnya yang mual. Rayan lantas memberikan botol minum milik Deyami kepada Adit. “Nih minum!” serunya.
    Adit kemudian mengambil botol minuman itu dari tangan Rayan. Ia lantas heran melihat botol minuman itu. dahi nya mengernyit, diatas kepalanya bermunculan tanda tanya yang mengambang. “Ray, lu serius?”
“Maksud lu apaan?” tanya Rayan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Adit.
"Ini botol minuman lu? Sejak kap...”
    Dengan sergap Rayan langsung memotong pembicaraan Adit  “Bukan! Itu punya sepupu lu, noh!” serunya sambil menunjuk kearah Deyami dengan moncong nya. Tampak Deyami tengah sibuk berselfie ria bersama Dona dengan pose moncong dimanyun-manyunin-membuat Rayan terasa mual. Najis si Dona sok imut. Maki nya dalam hati.
“Oh. Gue kirain.” Adit lantas membuka tutup botol minum itu dan meneguk isinya.

“Nggak nyangka ya, lu ternyata sama alay nya sama sepupu lu!” cetus Rayan membuat konsentrasi Adit buyar saat meneguk air minum yang ada di botol.
“Maksud lu apaan?” tanya Adit heran dengan apa yang dikatakan Rayan.
“Lu liat aja tuh botol minuman!”
    Adit lantas memperhatikan botol minum mini milik adik sepupu nya itu. “Stiker ini?” serunya kepada Rayan.
 “Yaps!” sahut Rayan simple.
 “Ooh... dia suka banget motoGP” seru Adit.
    Rayan lantas menoleh Adit, “Dan ngefans banget sama Dani pedrosa.”
“Yaps bener banget. Dia punya banyak banget something dengan gambar gituan” seru Adit dan kembali meneguk minumnya.
 Rayan mengalihkan pandangan nya ke arah Deyami, “gue curiga jangan-jangan sepupu lu koleksi gituan  sampe ke...”.
    Adit menatap Rayan dengan tatapan lempeng, “sampai ke..daleman?”
    Rayan melirik Adit iseng “Yaps! Kayak lu!”
 Adit lantas mendelik Rayan bengis, membuat Rayan menghentikan omongan nya, “Lu nyindir gue?” cetus Adit.
    “Kenyataan bro! ” Rayan nyengir membuat Adit semakin bengis.

    BLETAK!
    Rayan meringis sambil mengusap ubun-ubunnya yang langsung diketak Adit saking keselnya. Doni yang tadinya diam memperhatikan mereka  terkena efek sugesti. Dia mengusap-ngusap sendiri ubun-ubunnya sembari menatap iba kepada Rayan.
   
    “Jadi koleksi lo ga Cuma yang terlihat dimata Dit     . tapi yang ga terlihat dimata juga ada?” ketus Doni membuat Adit semakin kesal.
“Kalau iya emang kenapa? syirik lu pada!!” cetusnya bengis.
“Berarti gue sependapat sama Rayan!” sambar Doni sambil mengangguk-angguk gak jelas.
“Sependapat? Sama Rayan? Maksud lu?” tanya Adit heran.
“Jangan-jangan sepupu lo itu juga koleksi gambar yang beginian sampe ke...”

PLETAK!!
Kini giliran Doni yang dipletak oleh Adit. Doni mengerang kesakitan sambil mengelus ubun-ubun nya yang nyelekit.
“Lu bedua, ngomong lagi gue tabok nih sampe mabok!” cetusnya dengan nada bengis. Sementara Rayan dan Doni hanya terkekeh.

    “Woi KUTIL ONTA!! Sini lu!!” teriak Dona dari kejauhan memanggil kembarannya- Doni yang tengah terkekeh bersama Rayan.
Doni menatap Dona lempeng. Tidak terima jika ia diteriaki seperti itu di depan orang banyak. Namun sebisa mungkin iya menahan amarahnya. Kalau saja tidak banyak orang disini, ia akan mengejar Dona dan menghajar nya habis-habisan. Tapi itu hanya gertaknya didalam hati saja. Secara badan Dona lebih besar dari nya, ia akan kalah telak jika harus beradu kekuatan melawan Dona.
    “WOI!! Bengong aja lu KUTILANG!! Sini!!” Dona kembali berteriak memanggil Doni yang masih menatap Dona lempeng.
    “pengen gue bunuh nih anak!” tukas Doni merasa kesal. Untungnya Dona tidak mendengar itu. kalau saja Dona mendengarnya, ia pasti akan segera berubah menjadi manusia berkepala anjing dan siap memangsa Doni.
    Rayan menepuk-nepuk punggung Doni “Udah!! Sana pergi! Sebelum gue dan Adit menjadi sasaran nya siluman dogy!” tukas Rayan kepada Doni.
    Doni segera berjalan menuju Dona. Dan ternyata...Dona menyuruhnya menjadi tukang jepret pribadi. Doni yang statusnya hanya sebagai kucing yang tak  berdaya, mematuhi segala perintah Dona.

 Menit berikutnya Rayan dan Adit menyusul keberadaan Dona, Doni, dan Deyami. Mereka memutuskan untuk kembali menjajal wahana yang ada di Ancol. Tentu saja bukan wahana yang memacu adrenalin seperti tornado, halilintar, histeria, apalah itu semacamnya. Yang jelas, sekarang mereka akan benar-benar have fun disana.

    Waktu terus berputar, keseruan mereka kini berakhir. Kini mereka kembali menuju mobil diparkiran. Dona berlari-lari, jingkrak-jingkrak bersama Deyami menuju mobil. Rayan yang melihat hal itu lantas menggeleng kepala.
Sampai dimobil, Adit melemparkan kunci mobil kepada Rayan, dengan refleks Rayan segera menyambar kunci mobil yang dilemparkan Adit kepadanya.
 “Lu yang bawa ya, gue lelah.”
“Kamvrettt lu Dit.” Cetus Rayan merasa kesal.

Sementara itu Deyami bersama si catdog tengah asik berselfie. Ternyata tidak butuh waktu yang lama bagi Deyami untuk melakukan pendekatan dengan sikembar beda kelamin ini.
“Woi, kemon balik!” Adit bersorak dari dalam mobil-memanggil adik sepupu nya dan dua sahabat nya-yang masih sibuk berselfie ria.
“Okay” Dona dan doni menyahut lantas langsung masuk kedalam mobil disusul oleh Deyami.

Rayan menyalakan  mesin mobil. Ia kemudian melirik kearah Adit. “langsung back to home, nih bro?”
Adit melirik Rayan sinis, “Ya iya lah back to home! Emang lu mau back to akhirat?” tukas Adit.
“Kagak nongki-nongki dulu nih?” seru Rayan.
Adit lantas berfikir sejenak, “Boleh juga! Dimana?” serunya.
Rayan mengalihkan pandangannya, mulai memikirkan tempat untuk mereka nongkrong. Begitu juga dengan Adit.

Dona yang mulai gerah, langsung nyeloteh. Suara nya menggelegar, membuat siapa aja yang mendengarnya dijamin terjangkit gangguan pendengaran setelah itu.
“GERRAAAAAAAAHHHHH......GUEEEE!!! WOI BISA GA SIH LO NYALAIN AC!! GERAH GUE DISINI!! BURU...#%^#%!&*^y(*)(*&%^$#@!#$%^&...” Belum selesai ia mengungkapkan kegerahannya, tangan mungil mulus Doni tepat mendarat membekap mulutnya.
“Berisik!!” Doni mendekap erat mulut kembarannya itu.
spontan Deyami kaget melihat Doni yang membekap  mulut Dona begitu kuat. Mungkin terselip  maksud untuk menuangkan amarah nya yang tadi. “Yaelah, bang. Ntar kak Dona nya mati kalau dibekap gitu!” tukas Deyami yang duduk tepat disamping Dona.
Adit menggeleng-gelengkan kepala melihat perbuatan Doni terhadap Dona kembarannya. “Gilak! Persis penculik bayaran nih kita! Dona korbannya.” Cetus Adit.
“Gila lu don! Lu mau menodai kembaran lu sendiri..” sambar Rayan.
“Ini ayam arab kalau ga dibekap mulutnya bakalan berisik terus!” cetus Doni sambil terus membekap mulut Dona dengan kuat.

Dona berusaha melepaskan bekapan Doni dari mulutnya. Tanpa fikir panjang ia langsung menggigit telapak tangan Doni yang membuat Doni menjerit kesakitan.
PLAKKK!!!
Sebuah tamparan mendarat tepat dipipi kanan Doni. Kini pipi nya telah dihiasi oleh jejak menyerupai tapak dewa. Doni mengelus pipi nya yang perih sementara Rayan dan Adit hanya terkekeh.
“Mampus! Rasain lo!” hardik Dona yang merasa merdeka setelah terlepas dari bekapan saudara kembarnya itu dan melayangkan tamparan nya ke pipi mulus si Doni.
“Awas lo ya!!” Doni mengayunkan tanganya ke kepala Dona. Dengan sergap ia segera menjambak rambut panjang Dona yang tergerai.
Dona tidak mau kalah ia dengan cepat menjambak rambut Doni yang tidak seberapa. Peperangan antar saudara pun terjadi dimobil itu. Adit dan Rayan hanya terkekeh sambil bertepuk tangan menyaksikan perkelahian Dona dan Doni. Rayan lantas merogoh dompetnya dari dalam saku celana dan mengeluarkan selembaran uang lima puluhan. “gue megang Dona!” , serunya kepada Adit. Adit segera merogoh dompetnya disaku celana dan mengeluarkan selembaran uang lima puluhan. Ok! Gue Doni!” serunya dengan nada keraguan. Bagaimanapun selalu Dona yang menang dan Rayan terlanjur memegang Dona sebagai jagoan. Ia hanya berharap kali ini Doni mengalahkan Dona. Kini mereka kembali bertepuk tangan sambil menyoraki nama jagoan masing-masing dan menunggu siapa yang keluar menjadi pemenang. Sementara Deyami hanya terkekeh.

“Yes!! Gue menang!” seru Adit saat Doni menjambak keras rambut Dona hingga rontok beberapa helai-membuat Dona menyerah dan mengaku kalah. Rayan hanya pasrah dan mengikhlaskan duitnya saat diambil oleh Adit.

    “Iyuwwww!!!” seru Doni saat melihat gumpalan Rambut melekat ditangannya.
    Dona yang masih kesakitan lantas menoleh kearah tangan Doni. “Apaa?? Rambut gue...” pekiknya meratapi nasib Rambut nya yang malang. “Tega lo Don..”
    “Ya ampun. Gue ga  bermaksud sampai ngerontokin rambut lo gini Don..” seru Doni merasa tidak tega melihat Dona yang meratapi rambutnya. “sorry ya...nih rambut lo. Ambil..” cetusnya.
    Dona mendelik Doni “Awas lo sampai dirumah!” hancamnya kepada Doni-membuat Doni melongo.   

    Dona terus merengek meratapi rambutnya yang malang. Deyami merasa prihatin, ia berusaha menenangkan Dona “Udah kak, jangan sedih, rambut mah bisa tumbuh lagi” seru deyami.
    “Gak seenak yang lo kata! Ini rambut udah gue rawat dengan kasih sayang gue!” tukas Dona membuat Deyami meneguk ludah dan memilih membungkam mulut.

    “OK. Gue lelah, dan gue masih memendam emosi. Jadi kalian semua harus bawa gue nongki di cafe. Gue mau makan minum dan terserah apapun mau gue.” Teriak Dona.
    “Sok ngeratu lo!” gertak Doni kesal dengan Dona.
    Dona lantas  melirik Doni sadis “Eh lo, diem lo ya!” gertaknya.
    “Apa lo?!” cetus Doni tidak suka.
    “Apa lo?! Mau gue gampar lo?! Awas lo ya dirumah!” celetuk Dona sambil menunjuk-nunjuk muka Doni dengan geram.

    “Idiihhhh! Ini si catdog berisik!!”seru Adit mulai risih dengan pertengkaran Dona Doni sikembar beda kelamin.
    “GUE GAK MAU TAU! POKOKNYA GUE MAU MAKAN MINUM!! KALAU ENGGAK GUE TERIAK-TERIAK NIH!” teriak Dona.
“OK! Ok! Ok! Kita nongki dicafe! Gue yang TERAKTIR!!”  dengan nada tegas Rayan langsung mengiyakan apa yang Dona mau-dan mempertegas kata TERAKTIR. Tentu saja karena Rayan tidak mau mengambil resiko kalau-kalau Dona teriak-teriak, bisa-bisa ia disangka penculik sungguhan oleh orang yang mendengar teriakan Dona. Yang lebih berbahaya adalah...telinga nya akan mengeluarkan nanah segar kalau harus mendengarkan teriakan Dona yang baginya terdengar seperti ngauman anjing.
   
“Enggak! Enggak! Enggak! Kita pulang sekarang. Gue cape banget!” sambar Adit.
   
    Deyami menganga menatap Adit. Kamvreeeet nih anak!! Padahal aku pengin nongki-nongki!  Kapan lagi bisa nongki sama cowok cakep seperti Rayan. Gumam Deyami dalam hati-sedikit kesal kepada Adit.

“Amazing maximal, kalau ada kata TERAKTIRAN mah gue mau!” cetus Doni dengan semangat.
“Nggak ada alasan! Pokoknya sekarang kita nongki ditempat biasa! Dan karna tadi lo dan rayan k.o, kalian berdua harus teraktir kita-kita.” Cetus Dona sembari menunjuk Adit.
   
    Rayan hanya terkekeh kecil sembari melirik kearah Deyami. Deyami yang memergoki Rayan tengah melirik kearahnya itu pun di buat melayang-layang serasa terbang ke awan. Ada gerangan apa pria tampan yang baru tadi ditaksirnya melirik kearahnya? Matanya lantas berbinar-binar, jantungnya berdebar.

    Menit selanjutnya, Rayan sudah menginjak pedal gas, dan mobil yang mereka tumpangi pun kini telah melesat-menuju sebuah cafe. Sementara itu Deyami melempar pandangan jauh keluar jendela berusaha menghilangkan debaran didada nya akibat lirikan Rayan. Namun sudah terlambat. Debaran didada nya sudah terlalu menggebu-gebu dan sangat susah dihentikan. Badannya serasa bergetar. Getaran yang sangat aneh, namun familiar baginya. Deyami tak ambil pusing tentang getaran dibadan nya itu. ia kembali menoleh kearah Rayan yang tengah fokus mengemudi. Lalu ia mengalihkan pandangannya kepada Adit yang tengah sibuk dengan ponsel nya. Tampak si kembar beda kelamin juga tengah sibuk dengan ponsel nya.

    Melihat itu, Deyami seakan menemukan wangsit bahwa getaran yang sedari tadi menghantui tubuh nya adalah getaran dari ponsel miliknya. Ia segera merogoh tas selempang andalannya, mengacak-acak isi tas untuk mencari keberadaan ponsel nya. Nah, ini dia. Deyami mengambil ponselnya keluar dari tas. Membuka lockscreen ponsell miliknya dan...mendapati ada sedikitnya tiga panggilan tak terjawab dari Maudy sahabatnya. Ia lantas mendesah. Kemudian ia mendapati sebuah mail message telah masuk ke Emailnya. Entah dari siapa. Mungkin dari Om Fredy, fikirnya dalam hati. Ia kemudian membuka mail message itu.

    YEAAAYYYY!
    deyami terhonjak dari duduk nya sambil berteriak. Mengagetkan Rayan yang tengah fokus mengemudi juga Adit dan si kembar beda kelamin. Mereka secara bersamaan mendelik kearah Deyami. Deyami yang sadar akan hal itu hanya melemparkan senyuman sungging nya. Merasa malu atas perilaku nya yang alay.

    Hi deyami, bagaimana kabar mu setelah perpisahan kita di AW Resto?
   
    Begitu isi mail message yang ternyata itu adalah mail message dari Stefan Widjaya. Deyami kini tersenyum-senyum, tampak kegembiraan tengah terpancar dari raut wajahnya. Dadanya berdebar, tidak menyangka kalau Stefan yang baru dikenalnya itu benar-benar menghubunginya.

    What? Stefan ngirimin aku mail message?. Ia masih saja tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Benar-benar tidak percaya. Berkali-kali ia melihat kembali nama si pengirim mail message, Stefan Widjaya. Ya, ini benar-benar stefan, dia masih ingat dengan ku. Seru nya dalam hati. Ia kemudian menaruh ponselnya kedada dan fikirannya melayang sekejap sebelum akhirnya tingkah laku anehnya disadari oleh Dona.
    “Ngapain lo Dey? Cengar-cengir sendiri!”
    Deyami gugup saat Dona menyadari tindakannya  “Eh..ngg...gak! Gue lagi happy aja!” Deyami menjawab dengan nada tertahan.
    “Liat sini handphone lo!” Dona merebut handphone milik Deyami dan melihat apa yang tengah dicengar-cengiri oleh Deyami. “Cieee mail message, dari...Stefan Widjaya.”
    Deyami mencoba meraih kembali ponsel miliknya. “Sini, balikin!” .

Dona yang sudah puas karena sudah mengetahui apa yang membuat Deyami cengar-cengir gak karuan itu pun spontan memberikan ponsel itu kepada Deyami.
“Masih jaman, mail message-an? Udah ada BBM kali...LINE!” seru Dona meledek Deyami.

Berengsek nih orang! Kalau dia tau aja gimana Stefan, tuh mulut ga bakal bisa bilang gitu!. Deyami mengerutu dalam hati, kesal dengan ledekan dari Dona. Namun saat ini ia tidak ingin mencari perkara. Ia hanya membalas dengan senyuman ledekan dari Dona.

Hi Stef! Kabar ku baik! kamu?

Deyami membalas mail message dari Stefan simple dan jutek-bermaksud agar Stefan tak mengira kalau sebenarnya ia sangat menantikan kabar dari stefan.

Diam-diam Rayan menguping perkataan Dona. Ia merasakan  ada yang aneh dihati nya saat mendengar nama Stefan Widjaya. Ia  tidak mau ambil pusing dan memutuskan tetap fokus mengemudi.

Kini mobil telah memasuki halaman parkir sebuah cafe di kerumunan ibukota. Adit membuka pintu mobil dan bergegas keluar dari mobil. Dona yang sudah tidak sabaran-mendorong Doni yang lemot membuka pintu mobil. Sementara Deyami keluar dengan perasaan begitu gembira.

Mereka langsung menuju meja yang ada di pelataran belakang cafe. “Nah, yes! Gue duduk disebelah situ!” teriak Dona sambil menunjuk kursi yang ingin ia duduki.
Rayan yang kebelet ke toilet-berpamitan untuk ke toilet, “Guys, gue ke toilet bentar ya”.
“Yups” mereka menjawab bersamaan.

Tapi lain halnya dengan Deyami. Ia hanya diam, dengan wajah tampak seperti orang yang lagi kasmaran. Rayan menatap Deyami seksama, ia paham betul kalau gadis yang baru saja dikenal nya itu tengah falling in love kepada lelaki yang disebut namanya oleh Dona tadi. Faham akan hal itu rayan menggeleng, dan  berlalu menuju toilet.

Tampak Dona Doni tengah memilih-milih makanan yang ada pada buku menu, begitu juga dengan Adit. Tapi tidak dengan Deyami. Ia  cengar-cengir sendiri, tangannya hanya  membalik-balik buku menu tanpa memandangnya. Pandangan nya melayang jauh. Entah apa yang ada dalam lamunannya. Ia kemudian tersentak dan merogoh ponsel dari tasnya, berniat untuk on di twiter dan ngepoin timeline rider kesayangannya. Eh iya, udah dibales belum ya?. Mendadak iya kepikiran tentang mail message yang sudah dikirimnya ke Stefan. Deyami kembali bersemangat mengacak-ngacak tas nya untuk mencari ponselnya yang tidak juga ditemukannya.

Yahh!! Handphone tinggal di mobil. Deyami berbisik kecil setelah mengingat kalau ponsel yang dicari-carinya ternyata tertinggal di mobil. Ia kemudian menoleh kearah Adit yang tengah sibuk membalik-balik buku menu, “Bang, kunci mobil mana?”
Adit yang masih sibuk membalik-balik buku menu menjawab pertanyaan Deyami tanpa menatapnya, “Nggak tau. Sama Rayan kali”.

Anjirrrrr!  Kunci sama Rayan... selalu ada kesempatan dalam kesempitan. Gumam Deyami dalam hati. Happy membayangkan kalau ia harus meminta kunci mobil kepada Rayan. Itu artinya ada kontak mata lagi dengan Rayan.

Deyami mengetuk-ngetukkan seluruh jarinya  kemeja-mengikuti irama alunan musik di cafe tersebut. Ia kemudian tersenyum-senyum sendiri dan kembali melirik Adit, “Bang...” serunya memanggil Adit.
Adit menoleh kearah Deyami, “Apaan?”.
“Mintain kuncinya dong! Aku mau ke mobil, handphone aku tinggal dimobil.” Seru Deyami kepada Adit berbasa-basi. Dan tentu saja dia berharap semoga Adit tidak benar-benar melakukan hal itu, karena akan menghambat kesempatannya untuk berbicara kontak mata dengan pria tampan yang membuatnya mabuk kepayang.
“Aduhh, bentar lagi juga Rayan bakalan dateng kok! Minta sendiri aja.” cetus Adit. Lantas membuat Deyami riang gembira. Yess!! Akhirnya Adit mengerti akan keinginannya.
“Cieeee yang mau mail message-an, cieeeeee.” Ledek Dona yang sedari tadi ternyata menguping apa yang Deyami katakan.
Deyami hanya tersipu malu, “Ih, apaan sih kak!” cetus nya.

Deyami menghentak-hentakan kakinya,tampak pipi nya kini memerah karena berusaha menahan kebahagiaannya. Detik berikutnya dari kejauhan tampak Rayan yang datang mendekati meja tempat dimana ia dan yang lain nya duduk. Datang deeeeh, ungkapnya dalam hati sambil menahan senyum geroginya.

“Udah pada mesen?” sahut Rayan sambil menggeser kursi dan kemudian duduk.
“Belum!”. Cetus catdog sikembar beda kelamin. “kita kan nungguin lo. Buruan, lo mau makan apa? Gue mau yang ini”. Dona kemudian nyodorin menu makanan sambil menunjuk makanan dan minuman yang diinginkannya.
“Gue mau yang ini nih!” tak mau kalah dari Dona,  Doni juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Dona terhadap Rayan.
Rayan menghela nafas atas tingkah sikembar beda kelamin itu. “fyuuuhhh... iya! Iya! Iya! Order aja.”
“Mbaakkk!” seru Dona berteriak memanggil mbak-mbak pelayan cafe.

“Ray, kunci mobil mana?” seru Adit membuat Deyami menepuk jidad nya. Aduhhh!!
Rayan lantas merogoh kunci mobil dari saku celananya, dan menaruhnya diatas meja membuat Deyami mengernyitkan kening nya kecewa karena harapannya tak sesuai rencana. “Nih, sama gue. Kenapa?”
“Lu temenin Deyami deh ke mobil, ada yang mau dia ambil di mobil.”
   
“KYAAA!!”  Deyami shock atas apa yang baru saja didengarnya keluar dari mulut abang sepupunya. Seketika bola matanya yang bulat berubah menjadi bentuk hati. Dada nya berdebar kencang-hingga dua sampai tiga detakan perdetik.
“Nggak! Nggak! Aku pergi sendiri aja, bang. Gapapa.” Ketusnya pura-pura menolak usulan Adit yang sebenarnya belum tentu Rayan mau menemaninya. Didalam hatinya, ia sangat berharap sekali agar Rayan menemaninya.

Rayan lantas mengambil kembali kunci mobil yang tadi ditaruhnya diatas meja. Spontan ia langsung berdiri, bersemangat untuk menemani Deyami seperti yang diperintahkan sahabatnya Adit. Iya lantas menoleh kearah Deyami. “Yuuuk. Aku temenin” seru Rayan sambil melemparkan senyuman terbaik sepanjang masa kepada Deyami.
Oh gosh!!  Deyami membalas senyuman Rayan,  “Nggak usah, aku sama kak Dona aja. Yuk kak!” lagi-lagi Deyami sok menolak ajakan yang sangat menarik baginya. Ajakan dari Rayan-pria yang kini lebih membuat jantungnya berdetak kencang dibandingkan dengan mail message dari Stefan yang mulai terlupakan.
Dona yang mendengar itu langsung nyerocos kepada Deyami.
“ENAK AJA!!! ORANG MAU MAKAN, EHH MALAH DISURUH NEMENIN KE MOBIL. SAMA RAYAN AJA SANA!!”

Deyami ternganga lalu kemudian tersenyum lebar memperlihatkan giginya sambil mengacungkan dua jari kepada Dona.
“O...OW. PEACE KAK!”
Ia kemudian menatap erat-erat Adit sambil tersenyum lebar, bermaksud untuk merayu abang sepupu nya itu agar menemaninya. Belum selesai Deyami menyampaikan maksudnya, Adit malah langsung me-skakmat Deyami.
“Apa? Lihat-lihat senyum-senyum? Mau minta temenin abang?” ketus Adit.
“A...baang...” rayu Deyami dengan nada manja.
“Enggak! Enggak! Enggak! Sama Rayan aja sana!”.

Mendengr celetus Adit yang menegaskan bahwa ia tidak akan menemani nya, ia lantas bersorak dalam hati, YESS!!!. Kini ia menaruh harapan besar terhadap Rayan. Deyami melirik Rayan yang masih berdiri tegap. Ayooo dong! Kemonnnn Rayan ganteng ku!  Gumamnya dalam hati memberikan sugesti pada Rayan . Seolah mendapat sugesti Rayan langsung mengajak Deyami.

“Yuk!” sahut Rayan dengan senyuman kepada Deyami. Deyami lantas berdiri dengan semangat, saking semangatnya iya tidak sadar bahwa mulutnya telah mengeluarkan sebuah kata yang membuat Rayan dan yang lainnya mengernyitkan kening. “YES!!”  ia kemudian berdiri, dan berjalan menuju parkiran berdampingan dengan Rayan.

Deyami mengikuti Rayan dari belakang. Sesekali ia mempercepat langkah nya untuk berada tepat disamping Rayan. Namun karena langkah Rayan begitu cepat, ia kembali tertinggal. Senyam-senyum, cengar-cengircengengesan-itulah yang dilakukan nya selama berjalan menuju parkiran bersama Rayan.

Sesampainya diparkiran tanpa fikir panjang Rayan langsung  membuka kunci pintu mobil. Deyami segera masuk dan mengambil ponsel nya didalam mobil. Tidak ada percakapan diantara dirinya dan Rayan. Tak sesuai harapan. Gumamnya dalam hati. Ia kemudian keluar dari mobil setelah mendapatkan ponselnya  dan  ia pun menutup pintu mobil.

“Udah?” tanya Rayan yang membuat jantung Deyami berdegup.
“Udah bang” jawabnya simple.
“Panggil Rayan aja” seru Rayan sambil tersenyum getir kepada Deyami. Karena memang Rayan tidak suka dipanggil abang oleh siapapun yang menurutnya memiliki verbedaan umur yang tidak terlalu jauh olehnya.
“Hah?”
“Umur kita samaan kali!”
Deyami kembali ternganga “Hah?”
“Luapain aja!” Rayan pun berlalu meninggalkan Deyami.

Deyami masih melongo ditempat. Entah heran ntah shock ntah apa yang membuat nya melongo dan mematung. Sementara Rayan sudah membalikan badannya dan berjalan menuju cafe. Deyami masih belum beranjak dari tempat ia berdiri, ia  masih mematung disitu. Kesemutan kali kaki nih bocah. Cetus Rayan yang kemudian berteriak memanggil Deyami. “WOII! Buruan!”  tukasnya membangunkan Deyami dari sikap mematung nya.
“hah? Eh..iya iya” seru Deyami. Ia kemudian berlari-lari kecil menyusul Rayan yang berjalan dengan cepat.

Rayan  melangkah  begitu cepat, membuat Deyami melangkah dengan tergesah-gesah.
GUBRAKK!!
Rayan terus berjalan tidak memperdulikan suara yang terdengar seperti durian jatuh itu. Namun, detik berikutnya Rayan menghentikan langkahnya, lantas dahi nya mengernyit melihat orang-orang yang ada disana -berlarian melewatinya seperti mengejar durian yang jatuh dibelakangnya. Rayan tak  menoleh sedikitpun. Ia malah mengangkat kedua bahunya dan melangkah lagi. Sayup-sayup terdengar suara riuk pikuk tak jauh dibelakangnya. Masih dua kali melangkah, Rayan kembali menghentikan langkahnya. Tiba-tiba ia teringat Deyami. Dimana itu bocah? Rayan menoleh kebelakang, sama sekali tidak melihat Deyami, yang dia lihat hanyalah kerumunan orang banyak. Satu diantaranya sedang menunjuk kearah nya sambil teriak-teriak “Mas! mas! Ini pacar nya!”. Rayan yang tidak faham hanya mengernyitkan dahinya, dan menggaruk ubun-ubunnya yang tidak gatal. Ah...mungkin orang itu memanggil orang lain, karena seingat Rayan iya tidak punya pacar. Ia lantas celingak-celinguk melihat siapa yang ada disamping atau belakang nya. Tidak ada siapa-siapa, ia lantas menunjuk dirinya dengan telunjuk nya-memastikan kalau emang benar dia yang sedang dipanggil oleh orang itu, “Saya mba?” sahutnya.
 “Iya mas! Sini! Ini pacarnya pingsan!” celetuk salah satu mba-mba yang ada dikerumunan-meyakinkan Rayan.
ASTAGA!  Rayan menepuk jidad, ia mengingat sesuatu, lantas ia segera berlari menuju kerumunan. Dan ternyata benar. Ia mendapati Deyami sudah tergeletak pingsan  ditengah kerumunan itu. Rayan panik, ia lantas mengangkat kepala Deyami dan memangkunya.
“Kenapa bisa gini mba, mas?” tanya nya panik kepada orang-orang yang ada disana.
“lho! Harusnya mas tau dong dia kenapa! kan dia pacar mas!” cetus salah satu mbak-mbak yang ada disana.
“Ya ampun Dey...kamu kenapa?” rayan  menepuk-nepuk pipi Deyami panik. Tampak raut wajah Rayan pucat. Ia pasti akan disalahkan Adit atas keteledorannya tak bisa menjaga Deyami.

    Anjirrrrr! Rayan ternyata peduli sama aku. Seru Deyami dalam hati yang ternyata hanya berpura-pura pingsan. Ya sebenarnya Deyami tidak pingsan sungguhan. Ia hanya terpaksa berpura-pura pingsan untuk melindungi dirinya dari guyonan orang-orang yang ada disekitar cafe yang mellihatnya jatuh tersungkur.Sebenarnya ia hanya jatuh tersungkur biasa, tidak terlalu sakit baginya. Namun karena merasa malu kepada orang-orang yang menyaksikan tragedi memilukan plus memalukan-saat ia tersungkur di pelataran depan cafe yang tidak jauh dari parkiran itu, ia terpaksa mengambil langkah aman, berekting pingsan agar tidak ditertawakan. Sungguh konyol.

“Mas, pakai ini” sahut salah seorang yang dengan berbaik hati memberikan minyak angin kepada Rayan untuk dioleskan pada Deyami. Rayan segera mengambil minyak angin itu dan mengolesnya ke dua sudut dahi Deyami yang membuat Deyami susah menahan kegembiraannya.
“Bawa kerumah sakit aja mas!” seru salah seorang diantara kerumunan itu.
Rayan meraih ponselnya disaku. Tampak tangannya bergetar saat menggenggam ponsel miliknya. Dengan keadaan yang masih panik ia segera  menghubungi Adit.
“H...hhh..halo Dit. Buruan ke-parkiran. Sepupu lo pingsan”

------

    “Kenapa bisa gini?”
    Pekik Adit tepat saat ia beserta Dona juga Doni sampai dilokasi Deyami berpura-pura pingsan yang tidak terlalu jauh dari parkiran.
    “Ya ampun! Kenapa lo dey” teriak Dona shock melihat Deyami yang tergeletak pingsan.
    “Angkat angkat angkat” seru Doni yang dengan semangat berteriak menyuruh Rayan segera mengangkat Deyami.
     Rayan lantas mengangkat Deyami. Tampak mukanya memerah keberatan menahan beban, “Berat woi. Tolongin!!” serunya membuat Adit segera meraih badan Deyami dan kemudian membawanya ke mobil.
    “Mobil, buka mobil!” teriak Adit.
    Dona segera berlari tergesah-gesah membuka pintu mobil, “Kunci mana?” pekiknya tegang.
    “Di saku celana gue!” teriak Rayan. Dona berlari menuju Rayan, tanpa fikir panjang ia langsung merogoh saku Rayan dan meraba isinya. “Woi curut! Geli!”, pekik  Rayan yang merasa geli saat Dona merogoh saku nya.
    Dona kembali berlari menuju mobil dan membuka pintunya. Detik selanjutnya Adit dan Rayan merebahkan tubuh Deyami dibangku mobil.
    “Ya ampun dek, lu kenapa?” seru Adit memandang Deyami dengan rasa kekhawatiran. Sementara Deyami masih meneruskan ektingnya.
    “Bawa ke rumah sakit aja yuk! Buruan!” tukas Rayan yang bergegas masuk ke mobil dan siap untuk mengemudi.
    Njirrrr! Kerumah sakit? Mampus deh. Gumam Deyami dalam hati saat mendengar usulan Rayan yang membuat ektingnya sedikit buyar.
    Adit bergegas masuk kebangku depan. Dona duduk sambil memangku kepala Deyami yang masih dalam keadaan pingsan. Sementara Doni duduk memangku kaki Deyami. Sesekali tampak Dona mengusap perlahan kepala Deyami.

------

    “Kita dimana?”
    Seru Deyami yang baru saja tersadar dari ekting pingsan nya.
    “Deyami udah sadar!” pekik Dona merasa lega. “Kita dimobil, mau kerumah sakit” tukasnya kemudian memberi tahu Deyami.
    “Kerumah sakit?” tanya Deyami shock.
    “Iya” sambar Adit.

    Anjirrrr! Kenapa jadi dibawa rumah sakit beneran?! Di infus dong ?!
Fikir Deyami khawatir. “ngggg...nggak usah” serunya.
    “Loh? Kita khawatir kamu kenapa-napa” tukas Rayan.
    “Aku ga kenapa-napa kok” Deyami kemudian berusaha bangkit dari pangkuan Dona “Tuh lihat, aku udah baikan kok” serunya.
    Adit menatap Deyami dengan kekhawatiran “Kamu yakin?”
    Deyami mengangguk meyakinkan. Karena memang dia tidak kenapa-kenapa, toh dia hanya berpura-pura pingsan agar tidak malu saat tersungkur didekat kerumunan orang. Hanya dengkul dan telapak tangan nya saja yang terasa nyelekit akibat tergesek keubin kasar pelataran cafe.
    “Yaudah kalau gitu kita langsung pulang aja biar kamu bisa istirahat” tukas Adit.

    Fyuhhhhh.
    Deyami menghela nafas lega. Ia kemudian terdiam-merasa bodoh atas apa yang sudah dilakukannya. Kalau bukan karena mengejar langkah Rayan yang begitu cepat, tentu ia tidak akan tersungkur dan berpura-pura pingsan seperti tadi.

    Kini Deyami tampak tersenyum-senyum sendiri, membayangkan betapa bodohnya dia saat berpura-pura pingsan. Disatu sisi ia merasa malu atas dirinya sendiri, apalagi kalau Rayan dan yang lain tau bahwa dia jatuh tersungkur dan berekting pingsan. Pasti dia akan ditertawakan mati-matian oleh Adit dan sikembar beda kelamin. Dan tentu saja ia akan merasa malu kepada Rayan. Namun disatu sisi, ia merasa beruntung dan sangat teramat bahagia sampe tumpe-tumpe. Karena berekting pingsan, ia sukses menarik perhatian Rayan dan merasakan nyaman nya berada dipangkuan Rayan selama beberapa menit plus merasakan belaian dari tangan Rayan yang membuatnya terbang melayang sampai kesurga. Apalagi sayup-sayup dia mendengar orang-orang mengatakan bahwa dia dan Rayan berpacaran. Amazing moment. Serunya dalam hati.


Bersambung...